Kegiatan Rabu Pagi SMAN 1 Bobotsari: Meneladani Spirit Thariq bin Ziyad dan Wajah Islam Rahmatan Lil ’Alamin

Categories:

BOBOTSARI – Mengawali aktivitas dengan penguatan nilai-nilai keagamaan dan wawasan sejarah, SMAN 1 Bobotsari kembali menggelar Kegiatan Rabu Pagi pada 22 Juli 2026. Bertempat di Ruang Guru, kegiatan rutin ini menghadirkan Rarantika Setyo Purnomo, S.Pd.I., M.Pd.I. yang memaparkan kisah keteladanan bersejarah mengenai penaklukan Andalusia oleh panglima Islam masyhur, Thariq bin Ziyad.

Dalam pemaparannya, Rarantika menceritakan latar belakang penaklukan Andalusia yang kala itu berada di bawah cengkeraman kekuasaan Raja Roderick yang kejam dan zalim. Kedatangan pasukan Muslim bukan didasari oleh ambisi kekuasaan, melainkan atas permintaan pimpinan benteng Visigoth yang menuntut keadilan. Atas izin Khalifah Al-Walid di Damaskus melalui perintah Gubernur Musa bin Nusayr, Thariq bin Ziyad diberangkatkan mengarungi lautan untuk membebaskan rakyat Semenanjung Iberia dari penindasan.

Momen dramatis diceritakan saat Thariq dan 12.000 pasukannya harus menghadapi 100.000 bala tentara Raja Roderick bermuatan tempur lengkap. Mengetahui pasukannya diliputi rasa cemas dan gelisah, Thariq mengambil keputusan berani dengan memerintahkan pembakaran seluruh kapal perang yang mereka tumpangi. Di hadapan para prajurit, ia menyampaikan pidato legendarisnya: “Kapal telah kita bakar, tidak ada jalan untuk kembali. Pilihan kalian saat ini hanya dua: maju menyerang untuk menang, atau kita mati di sini.”

Keberanian dan kesungguhan pasukan Thariq bin Ziyad membuahkan hasil dalam Pertempuran Guadalete pada 19 Juli 711 M. Saat pertempuran berkecamuk, desas-desus bahwa kedatangan pasukan muslim bukan untuk menjajah melainkan membebaskan rakyat dari kekejaman raja membuat banyak pasukan Visigoth yang membenci Roderick memutuskan untuk mundur. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri masa kegelapan Kerajaan Visigoth dan membebaskan penduduk lokal. Nama Thariq pun diabadikan pada bukit bersejarah yang hingga kini dikenal sebagai Gibraltar (Jabal Thariq).

Di akhir penyampaiannya, Rarantika menegaskan pesan moral dan nilai utama dari peristiwa sejarah tersebut bagi seluruh warga sekolah. Beliau menekankan bahwa ekspansi Islam senantiasa memegang teguh prinsip Rahmatan lil ‘Alamin, menjadi rahmat dan pengayom bagi seluruh alam. Sebagaimana Rasulullah Saw. meletakkan fondasi Piagam Madinah untuk merangkul seluruh etnis dalam kedamaian, spirit penaklukan Andalusia pun membawa misi pembebasan dan toleransi, sebuah nilai keberagaman dan keteguhan karakter yang patut diteladani oleh seluruh jajaran guru dan tenaga kependidikan di SMAN 1 Bobotsari. (Humas Smansaboss).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *