Doa Pagi SMAN 1 Bobotsari: Mengungkap Tabir Pikiran di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Categories:

BOBOTSARI – Mengawali kegiatan di penghujung pekan, guru dan karyawan SMA Negeri 1 Bobotsari kembali melaksanakan rutinitas doa pagi bersama di Ruang Guru pada Jumat, 17 April 2026. Sesi berbagi ilmu kali ini disampaikan oleh guru Bahasa Indonesia, Dony Oktavianto, S.Pd., yang mengangkat tema inspiratif berjudul “Mengungkap Tabir Pikiran”. Dalam paparannya, beliau menyoroti fenomena penurunan kreativitas, intuisi, dan kemampuan kognitif manusia di era modern akibat paparan media yang berlebihan. Fenomena ini berdampak langsung pada para siswa yang sering kali terjebak dalam Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan akan tertinggal tren, yang secara tidak sadar mengikis fokus dan kedalaman berpikir mereka.

Guna memperkuat argumennya, Dony mengutip pesan dari ahli bedah saraf, dr. Ryan Rhiveldi Keswani, yang menekankan pentingnya menerima emosi manusia secara utuh. Dalam perspektif kesehatan saraf, perasaan sedih, kecewa, dan berbagai emosi lainnya merupakan bagian alami dari proses kehidupan yang harus dirasakan dan diproses. Dengan memahami bahwa emosi tersebut adalah hal yang wajar, individu diharapkan tidak lagi terjebak pada tekanan untuk selalu mengikuti arus atau tren yang melelahkan secara mental.

Pesan spiritual dan ilmiah ini kemudian dikaitkan dengan peran guru, khususnya guru wali dan juga BK, dalam membimbing siswa menentukan masa depan. Pemahaman mengenai kondisi mental siswa menjadi kunci agar bimbingan pemilihan jurusan dilakukan berdasarkan potensi, bakat, dan minat yang nyata, bukan sekadar terbawa arus teman sebaya atau menghindari individu tertentu yang tidak disukai. Guru diharapkan mampu menjadi jembatan bagi siswa untuk tetap berpijak pada kemampuan diri sendiri di tengah distraksi dunia digital yang kian masif.

Kegiatan doa pagi ini ditutup dengan harapan agar seluruh tenaga pendidik di SMA Negeri 1 Bobotsari dapat terus menjadi mentor yang bijak. Melalui penguatan kognitif dan mental yang sehat, sekolah optimis dapat mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan kemandirian dalam menentukan langkah studi lanjut mereka. (Humas Smansaboss).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *