Mengubah Fakta Jadi Story: Workshop Jurnalistik Mengupas Seni Menulis Feature

Categories:

BOBOTSARI — Suasana Aula Handayani SMA Negeri 1 Bobotsari tampak penuh antusiasme saat sebanyak 40 siswa berkumpul untuk mengikuti Workshop Jurnalistik bertajuk “Merangkai Fakta, Menghidupkan Cerita: Seni Menulis Feature”. Acara yang digelar pada Jumat, 4 September 2026 ini dibuka secara resmi oleh Kepala SMAN 1 Bobotsari, Joko Widodo, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan krusialnya peran jurnalistik dan keterampilan menulis bagi generasi muda saat ini, sekaligus mendorong para peserta untuk terus mengasah kemampuan mereka.

Workshop ini menghadirkan wartawan Harian Suara Merdeka sekaligus Ketua PWI Kabupaten Purbalingga, Ryan Rachman, S.S., sebagai narasumber utama. Berbekal pengalaman jurnalistik sejak tahun 2010 dan berbagai penghargaan literasi nasional, Ryan membagikan kiat meracik tulisan berita agar tidak sekadar informatif, melainkan juga memikat dan menyentuh hati pembaca. Ia menjelaskan bahwa berbeda dari straight news yang berfokus pada kecepatan dan cepat basi, feature hadir dengan sentuhan kemanusiaan (human interest) yang bersifat awet dibaca kapan saja. Menurutnya, menguasai penulisan feature sangat penting untuk melatih empati, mengasah kreativitas dalam melukiskan suasana tanpa mengorbankan kejujuran fakta, serta sangat relevan diterapkan pada media sekolah seperti mading, buletin, hingga media sosial.

Dalam sesi penyampaian materi, para peserta diajak membedah anatomi tulisan feature, mulai dari merancang paragraf pembuka (lead), batang tubuh (body), hingga bagian penutup (ending). Ryan memberikan penekanan khusus pada teknik Show, Don’t Tell, yaitu keterampilan melukiskan suasana panca indera agar pembaca dapat merasakan langsung kejadian yang ditulis. Sebagai contoh, alih-alih hanya menuliskan bahwa seorang siswa merasa lelah setelah latihan basket, penulis dianjurkan menggambarkan rinciannya seperti tetesan keringat di dagu dan napas yang tersengal di atas lantai lapangan yang panas.

Tak berhenti pada teori, kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik. Seluruh peserta tertantang untuk langsung mempraktikkan alur kerja jurnalistik, dimulai dari mencari gagasan di lingkungan sekolah, menyusun lead, mengembangkan isi berita dengan teknik Show, Don’t Tell, hingga memoles bagian penutup tulisan. Sebelum kegiatan berakhir, narasumber kembali mengingatkan pentingnya verifikasi fakta, pemeriksaan ejaan, dan pemilihan judul yang menggugah. Melalui penyelenggaraan workshop ini, para siswa diharapkan mampu menghidupkan berbagai kisah inspiratif di sekitar mereka menjadi karya tulis jurnalistik yang bernilai tinggi. (Humas Smansaboss).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *