Cerpen: Cinta Mati

Pagi ini, cenderung malam sebenarnya, aku terbangun dari tidurku. Entah siapa yang dengan asyiknya memainkan kakiku, dingin, hampir beku, cara paling ampuh untuk membangunkanku. Sudah jam 2 dini hari, aku tahu dari arloji hitam yang melingkar di pergelangan tanganku. Tak peduli siapa yang sedang memegangiku di bawah sana, untung saja tertutup tenda darurat yang kondisinya rapuh hampir menyentuh tubuh.
“Masih ada waktu satu jam, apa aku tidur lagi saja?” pikirku.
“Ah sebentar lagi pasti lengkingan itu berbunyi.” gumamku sendiri untuk membunuh sepi.

Sejak minggu lalu, aku hidup di tengah hutan, entah daerah mana, yang jelas masih di Indonesia. Aku baru saja diterima sebagai anggota TNI AD, tentu saja setelah melewati ujian-ujian menyebalkan, seleksi-seleksi sialan.

Priiittttt……..

“Betul kataku, kan?” gumamku lagi sambil mengajak sosok tadi berbicara, walaupun sebenarnya aku berharap tak ada jawaban darinya.

Setelah bunyi peluit pertama, aku harus segera bangun, membongkar tenda, dan memakai perlengkapan. Menjadi tentara memang keinginanku sejak dulu, aku tergila-gila pada gadis glamor teman SMA-ku, dan untuk menikahinya aku harus punya nilai lebih, salah satunya dengan seragam tetara ini. Aku sudah tahu apa yang akan kulewati nanti sebagai tentara, siksaan atau pelajaran, hal itu tergantung bagaimana aku menyikapi pendidikan ini.

Priiitttt…. Priiiittttt…. Priiiiittttt….

“Cepat bangun! Penjajah akan menguasai negeri ini lagi jika prajuritnya seperti kalian!” bentak senior yang bertugas membangunkan kami. Satu hal yang ingin kutanyakan, bangun jam berapa dia?

Aku berlari menuju sebuah ladang, entah milik siapa, kami anggap ini aula. Telah berdiri seorang pria, lima tahun lebih tua dari ayahku, bersepatu tinggi untuk melindungi tulang keringnya, bertopi hijau yang bentuknya mirip topi pramukaku saat sekolah dasar dulu, berpakaian hijau loreng, yang akhir-akhir ini tampak lebih menyatu dengan hutan.
“Hari ini adalah hari terakhir pendidikan kalian.” beliau memulai khutbahnya.

Tak sedikitpun kudengarkan dia berbicara, memang aku tentara yang kurang ajar, tapi aku sudah tahu jelas apa yang akan beliau katakan. Besok pelantikan, prioritaskan negara, bla bla bla. Aku sudah tahu karena aku masuk TNI AD karena bantuan orang dalam, ayahku memang punya banyak koneksi.

Matahari mulai menembus semak-semak, membakar embun sisa hujan semalam. Semua prajurit sudah siap kembali ke barak, mempersiapkan pelantikan.
“Nanti Sasha datang, kan, Yah?” tanyaku pada ayah saat diberi kesempatan untuk menghubungi orang tua.
“Datang.” jawab ayah singkat.
“Syukurlah, aku tutup dulu.” ucapku mengakhiri panggilan.

Sang surya sepertinya sangat bersemangat untuk naik ke atas, lapangan mulai panas, tempat duduk tamu mulai penuh, seorang gadis cantik duduk di pojok kanan dekat pengeras suara, tepat di belakang pembawa acara. Pandanganku tak lepas darinya, terbayang aku akan melewati sidang pengajuan bersamanya, dan kemudian menikah setelah lulus dari sidang itu.
“Kami persilakan orang tua menyematkan tanda jabatan pada putra-putrinya.” pembawa acara mengarahkan lewat pengeras suara.

Orang tuaku berjalan ke arahku, diikuti gadis glamor itu. Tak jelas, namun aku yakin dia sedang menangis.
“Kau yakin akan menikahiku?” tanya Sasha.
“Kau meragukanku?”
“Tidak, tapi kau tidak harus seperti ini untuk menikahiku.” tangisnya semakin menjadi.
“Apa maksudmu?”
“Kau tak harus menjadi tentara untuk mendapatkan hatiku, Bayu. Aku mencintaimu apa adanya, asalkan kita bersama.” akhirnya dia jatuh ke pelukanku tepat setelah ayah dan ibu selesai memasang tanda jabatan di bahuku.
“Kenapa kau berkata seperti ini setelah semuanya terjadi?”
“Jujur aku bangga, tapi aku tak kuasa membayangkan hari-hari tanpa dirimu nanti, rumah kosong, sepi. Kau tahu kan? Aku benci sepi.”
“Aku tak akan meninggalkanmu.” aku mencoba menenangkan dia.
“Kau harus janji.”
“Iya, kau bisa pegang kata-kataku.”

Prajurit baru disebar ke segala penjuru. Untung saja ayahku punya banyak koneksi, dan memang uang yang beliau keluarkan cukup banyak. Karena ayahku, akhirnya aku ditugaskan di daerah domisili, masih satu provinsi dengan gadisku.
“Kau ada waktu?” tanyaku pada Sasha ketika kami sedang video call.
“Sepertinya ada nanti siang, kenapa?”
“Mau pergi besamaku?”
“Ke mana?” tanyanya bingung.
“Ikut saja.” jawabku disertai senyum.

Walaupun saat ini aku bisa menepati janji untuk selalu bersamanya, suatu saat nanti pasti aku akan melanggar janji itu. Dia tak suka sepi, seakan terbunuh katanya, jadi aku memilih pergi ke pet shop dan membeli kucing untuk menemani hari-harinya.
“Kau suka?” tanyaku.
“Aku lebih suka dirimu.” jawabnya sambil menggendong kucing pilihanku.

Dua bulan berlalu, kucing yang waktu itu kubeli sakit tanpa sebab. Aku tak tahu masalah kesehatan hewan, akhirnya kubawa ke dokter hewan. Ziyo, kucing itu, harus menginap di tempat dokter hewan selama beberapa hari. Namun, Sasha ingin bersamanya sehari lagi, baru setelah itu ia akan titipkan ke dokter hewan.
Tak disangka, hari berikutnya Ziyo ditemukan meninggal di taman belakang rumah Sasha. Saat aku melihatnya, mayat Ziyo belum keras, tanda baru saja meninggal. Sedang sibuk mengurus mayat kucing ini, tiba-tiba Sasha berteriak histeris di belakangku.
“Ada apa?” tanyaku cemas.
“Bayu, maafkan aku.”
“Ada apa?”
“Ziyo keracunan, meminum deterjen cair.”
“Tak apa, bukan salahmu.”
“Aku yang membunuhnya.”
“Apa katamu?” tanyaku kaget.
“Aku yang membunuhnya, Bayu.”
“Kenapa, Sasha?”
“Aku tak mau dia dibawa dokter itu.”
“Ziyo dibawa untuk diobati, agar bisa menemanimu lagi, Sayang.”
“Diam! Apa gunanya dia ada jika aku tak bersama dia?” nada bicaranya semakin tinggi.

Aku tak mampu menjawab apa-apa. Aku hanya mampu menenangkannya, memeluknya, meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Hingga saat emosinya reda, aku mulai memberanikan diri untuk menyampaikan maksud kedatanganku ke rumahnya.
“Sasha, begini.” ucapku menggantung.
“Minggu depan aku ditugaskan di Maluku, kau tak apa?” lanjutku.
“Kau harus pergi?”
“Iya, itu tugasku, ayah tak bisa lagi campur tangan.”
“Kau meninggalkanku?” suaranya parau.
“Tidak, Sasha. Aku akan kembali setelah tiga bulan di sana.”

Sasha terdiam cukup lama, hening, hambar. Perlahan tangannya meraih telepon genggam yang ada di saku celananya, mengecek sesuatu sebelum akhirnya memulai pembicaraan lagi.
“Aku minggu depan juga ada pelatihan memasak di Maluku.”
“Sungguh? Kenapa kau baru mengatakannya padaku?” tanyaku kaget, sedikit gembira, banyak bingungnya.
“Aku juga baru membaca informasinya. Namun sepertinya jauh dari tempat tugasmu.”
“Tak apa, aku bisa menyusulmu.”
“Terserah kamu.”

Waktu bagai melesat, berlalu cepat sekali. Aku sudah dua minggu di Maluku dan belum sempat bertemu Sasha. Sudah berkali-kali kucoba menghubunginya, namun hasilnya tetap saja, nihil.
“Bayu, mau kopi?” tanya rekanku.
“Boleh.”
“Mbak, kopi satu, wedang jahe satu.” pintanya kepada mbak pelayan kedai kopi tempat singgah kami, kemudian pelayan itu masuk ke dapur, hilang dari pandangan.

Tunggu. Pelayan itu, aku seperti pernah melihatnya. Walaupun wajahnya tak jelas, aku sungguh mengenal setiap jengkal tubuh itu. Rambut panjang bergelombang, kemeja merah motif bunga, rok hitam pendek selutut yang terlihat kebesaran menyamarkan bentuk tubuhnya, aku mengenalnya, sungguh. Namun, apa mungkin? Di tengah keheranan, kopi pesananku datang, diletakkan di depanku, diantar oleh ibu pemilik kedai, bukan gadis itu.
“Diminum, Bay.” rekanku mempersilakan.
“Terimakasih.”

Tegukan pertama, nikmat. Kedua, lumrahnya kopi, pahit. Ketiga, masih pahit. Aku berhenti sebentar. Mencari gadis tadi dengan mataku. Nihil. Keempat, semakin pahit. Kelima, pahit kopi ini berbeda. Disusul rasa mual yang teramat sangat, semua bagai bayang-bayang. Apakah aku mengantuk? Tidak. Aku merasa sangat bugar tadi. Kedai ini berputar, seperti dilanda gempa tanpa goncangan, kedai ini tak akan runtuh, hanya aku yang rubuh.

“Kenapa, Sasha?”
“Diam! Apa gunanya kau ada jika aku tak bersamamu?” nada bicaranya tinggi.

Anisa Puspita Rini (XII IPA 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.